Indonesia merupakan negara yang cinta
damai, namun lebih mencintai kemerdekaan. Penegasan itu tertuang
dengan jelas dan tegas dalam konstitusi, oleh karena itu penugasan
dalam rangka membangun perdamaian abadi dimuka dunia melalui pasukan
perdamaian dibawah bendera PBB telah sesuai dengan tujuan bangsa
Indonesia. Demikian amanat yang disampaikan Kasum TNI pada upacara
pembukaan pratugas Kontingen Garuda di Lapangan Upacara Pusdikif
Cipatat Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/10/2009).
Meningkatnya kepercayaan PBB terhadap
kemampuan Indonesia khusunya TNI dalam menjaga perdamaian dunia
dengan meminta tambahan pasukan merupakan suatu kebanggaan yang
telah dicapai kontingen Garuda dimanapun mereka ditempatkan. Suatu
penugasan yang akan dilaksanakan sebagai implementasi dari cita-cita
bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea
empat yang berbunyi ”Ikut Serta Melaksanakan Ketertiban Dunia Yang
Berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan Sosial”.
Tekad mulia ini dijabarkan melalui UU RI No. 34 tahun 2004 tentang
TNI. Pada pasal 20 ayat 3 yang menegaskan tentang penggunaan
kekuatan TNI dalam rangka tugas perdamaian dunia. Dalam pasal
tersebut secara jelas ditegaskan bahwa TNI melaksanakan tugas
perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri.
Lebih lanjut Kasum TNI menegaskan
bahwa materi latihan adalah materi standar PBB ditambah beberapa
materi lain yang dianggap relevan guna mendukung kelancaran
pelaksanaan tugas di daerah operasi. Materi-materi tersebut antara
lain materi pengantar berupa pembekalan dari para pejabat baik
pejabat di lingkungan Mabes TNI maupun pejabat dari beberapa
departemen terkait. Materi umum berupa Standardized Generic Training
Modules (SGTM), materi utama berupa Standardized Training Modules (STM)
dan materi pendukung lainnya. Disamping materi-materi tersebut di
atas, pembinaan fisik juga tetap terpelihara guna mencapai tingkat
kesapmataan jasmani yang stabil agar dapat tampil maksimal di daerah
penugasan, sehingga diharapkan dapat profesional dalam melaksanakan
tugasnya.
Selain itu lanjut Kasum TNI, tugas
pasukan PBB sangat berbeda dengan tugas-tugas konvensional sebagai
militer dalam operasi militer untuk perang (OMP). Negosiasi,
persuasi dan diplomasi merupakan alat utama bagi keberhasilan
pasukan PBB. ”Meskipun kalian dilengkapi dengan senjata namun
penggunaan senjata adalah sebagai alternative terakhir dalam
bertugas di Peace Keeping Mission. Bahwa setiap anggota harus
terus-menerus mendalami karakteristik wilayah penugasan operasi di
Libanon yang tentu saja sangat berbeda dengan negara kita, baik dari
sudut geografis, demografis maupun kondisi sosial budayanya serta
pengetahuan yang mendalam tentang konflik yang terjadi disana,
sehingga tidak dianggap oleh pihak yang berkonflik memihak pada satu
kelompok”, tegas Kasum TNI Laksdya TNI Y. Heru Didik Purnomo.
Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Laut
(P) Guntur Wahyudi dalam rilisnya menjelaskan Latihan Pratugas akan
dilaksanakan selama 1 bulan mulai tanggal 7 Oktober s.d 7 November
2009 di Pusdikif Cipatat Bandung. Peserta yang akan mengikuti
Latihan Pratugas sebanyak 1175 personel terdiri dari 50 personel
penyelenggara latihan (pelatih dan pembina) dan 1125 pelaku (Satgas
Yonif Mekanis 850 personel, Satgas Force Head Quarter Support Unit
150 personel, Force Protection Unit 50 personel, dan Kompi PM TNI 75
personel.
Sampai dengan saat ini, prajurit TNI
yang bertugas di Lebanon mencapai hampir 1500 personel yang terdiri
dari Satgas Yon Mekanis Konga XXIII-C, Satgas POM TNI Konga XXV-A,
Satgas FHQSU TNI Konga XXVI-A, Satgas Maritime Task Force Konga
XXVIII-A, Satgas Kompi Mekanis TNI Konga XXIII-C1 dan Satgas
Kesehatan TNI Konga XXIX-A.