Kotabaru Parahyangan di Padalarang,
Jawa Barat akan menjadi saksi sejarah tentang kepedulian Tentara
Nasional Indonesia (TNI) terhadap pentingnya penataan dan
pelestarian lingkungan hidup bagi kehidupan umat manusia. Sebagai
salah satu daerah yang dilalui sungai Citarum yang mengalir untuk
menghidupi sebagian besar paru-paru wilayah barat pulau Jawa, tempat
ini akan dijadikan oleh TNI sebagai proyek percontohan Konservasi,
Rehabilitasi dan Rekonstruksi (KRR) Daerah Aliran Sungai (DAS)
Citarum.
Kapuspen TNI, Marsda TNI Sagom
Tamboen, S.IP menjelaskan pencanangan kegiatan oleh Panglima TNI
direncanakan pada hari Sabtu (17/10) pukul 09.00 Wib di Bale Pare,
Kotabaru Parahyangan. Selain para pejabat TNI, Pemda Jawa Barat,
perguruan tinggi/sekolah dan pengusaha serta masyarakat sekitar,
sebanyak 77 orang Duta Besar atau perwakilan negara sahabat
diharapkan akan hadir. Mereka akan turut berpartisipasi menanam
pohon penghijauan dan tanaman holtikultura. Acara puncak pencanangan
akan ditandai dengan penandatanganan prasasti ”Ketahanan Lingkungan
Hidup Untuk Persahabatan Dunia” oleh Panglima TNI.
KRR DAS Citarum merupakan program
yang dirancang TNI bekerjasama dengan Urban Solutions Institute (USI),
Universitas Jenderal A.Yani dan Pemda Jawa Barat sebagai
implementasi undang-undang yang mengamanatkan tugas TNI untuk
memberdayakan wilayah pertahanan. Sekaligus menyukseskan program
Millennium Development Goals yang dicanangkan PBB hingga tahun 2015
menjamin keberlanjutan pembangunan lingkungan dan mengembangkan
kemitraan global untuk pembangunan.
Indonesia merupakan bagian dari hutan
tropis yang menjadi paru-paru dunia. Karena itu TNI berkewajiban
untuk turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan guna
menjamin terciptanya ketahanan lingkungan hidup, tanpa menyampuri
atau mengambilalih fungsi institusi lain. Program KRR DAS Citarum
ini sifatnya untuk melengkapi inisiatif pihak lain yang sudah
berjalan.
Program KRR DAS Citarum akan
dilaksanakan dengan mengerahkan kekuatan prajurit TNI jajaran Kodam
III/Siliwangi. Kebutuhan logistiknya didukung oleh USI dan PT.
Kotabaru Parahyangan, serta partisipasi pemerintah daerah dan
bantuan lain dari dalam dan luar negeri yang difasilitasi USI.
Sasaran akhir yang ingin dicapai adalah terciptanya kesadaran dan
sikap peduli lingkungan dari segenap komponen bangsa demi
kesejahteraan masa depan.
Program dilaksanakan melalui tiga
tahap. Tahap pertama, konservasi Gunung Wayang dan stabilitas debit
air Waduk Saguling. Kegiatannya berupa penghijauan zona penyangga,
kawasan lindung dan resapan air di daerah hulu. Memadukan tanaman
keras dan tumpang sari disekitar Waduk Saguling, serta membangun
sentra pembibitan dan agro industri di Kotabaru Parahyangan.
Tahap kedua, rehabilitasi Waduk
Saguling dan Waduk Cirata. Kegiatan ditujukan untuk memperoleh
nilai tambah di bidang pertanian, menciptakan komunitas enterprenur
melalui pemanfaatan produk hutan dan pertanian yang ramah lingkungan.
Semua kegiatan mempertimbangkan sinkronisasi daerah penghijauan
dengan peta wilayah pertahanan wilayah.
Tahap terakhir berupa rekonstruksi
DAS Citarum mulai dari Waduk Cirata hingga muara sungai Citarum.
Dalam tahap ini diharapkan berkembang sifat kemitraan dengan
pemerintah daerah dan masyarakat untuk membangun fasilitas
pengolahan limbah pertanian, peternakan, industri dan rumah tangga.
Demikian juga dalam penataan bantaran sungai, pengerukan sungai yang
dangkal serta pembersihan sampah dan enceng gondok.
Para undangan dan tamu-tamu yang
menghadiri pencanangan pilot proyek Ketahanan Lingkungan Hidup Untuk
Persahabatan Dunia ini akan berkesempatan meninjau sarana pendidikan
lingkungan yang telah berdiri di Kotabaru Parahyangan. Diantaranya
Spirit Camp (Program Yayasan Al Gore untuk Climate Change) dan
Purence Water (sarana proses air minum yang berasal dari kelembaban
udara/embun).