Lacakindonesia.com, 2 Desember 2009
Liputan: Siska Kartika
Kongo, Afrika,
(3/12/2009). Tim CDU (Conduct and Discipline Unit) yang bermarkas
di Bunia memberikan pengarahan terhadap 22 personel (Perwira/Bintara)
Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-G/Monuc yang berada di Camp Bumi
Siliwangidi Dungu. Tim yang beranggotakan dua orang Perwira Menengah
ini memberikan ceramah tentang SEA (Sexual Exploitation and Abuse)
selama 9 jam dimulai dari jam 08.00 s/d jam 17.00 waktu setempat,
bertempat di Conference Room Camp Bumi Siliwangi di Dungu, Rabu
(02/12/2009).
Pengarahan
tentang SEA ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh FCDU (Field
Conduct and Discipline Unit) setelah ada rotasi atau pergantian
pasukan. Organisasi yang berdiri sendiri dan bermarkas di Kinsasa
serta bekerja sama dengan Ituri Brigade ini, mempunyai tanggung
jawab penegakan disiplin di lapangan (Daerah Operasi dibawah Dewan
Keamanan PBB) terhadap para kontingen yang tergabung dalam operasi
perdamaian, khususnya di Dungu, Monuc-Kongo.
Adalah Major
Claes Bernhorn yang berasal dari Swedia dan Major Clointantin dari
Rumania mengatakan bahwa ini adalah bukan sekedar memberikan
ceramah semata, namun lebih jauh lagi agar dapat memahami dan
mampu memberikan penyuluhan tentang SEA (Sexual Exploitation and
Abuse) dan pelanggaran-pelanggaran serta kejahatan lainnya
khususnya kepada Kontingen Garuda XX-G/Monuc, sehingga diharapkan
dapat menularkan ilmunya kepada anggota yang lain.
Penyampaian materi
dengan menggunakan metoda ceramah dan diskusi ini sangat menarik
antusias para peserta penataran karena para peserta diajak langsung
dalam pembahasan dan bebas mengeluarkan pendapat sesuai dengan
pandangannya masing-masing tentang pelanggaran-pelanggaran serta
kejahatan yang terjadi di lapangan, ditambah dengan penyampaian
materi yang cukup professional dan penguasaan materi yang baik serta
dengan diselingi lelucon yang mengundang tawa para peserta, sehingga
waktu yang cukup panjang terasa begitu singkat.
Adapun materi
yang disampaikan oleh penceramah adalah tentang penegakan disiplin
dalam bertugas dan menghindari dari pelanggaran-pelanggaran yang
bersifat sexual dan kriminal serta disampaikan juga tentang Core
Values (Integrity, Profesionalism dan Respect for Diversity) bagi
seorang prajurit.
Dalam
kesempatan itupula tim CDU (Conduct Discipline Unit) menayangkan
film-film tentang kehidupan peackeeper/pasukan penjaga perdamaian
dalam menjalankan tugas di daerah operasi yang rawan akan
pelanggaran sexsual maupun kriminal, dimana lingkungan tersebut
memang sangat mendukung untuk melakukan pelanggaran yang dimaksud,
khususnya Sexual Exploitation and Abuse. Kemiskinan, kelaparan dan
ketidak berdayaan rakyat yang diakibatkan perang berkepanjangan
memaksa mereka berbuat apa saja demi untuk sesuap nasi bagi
anak-anaknya walaupun harus dengan menawarkan dirinya. Awarness,
Prevention, and Response (kesadaran, pencegahan, dan respon) adalah
kunci yang ditawarkan oleh Mr. Claes dan Mr. Clointantin dalam
menjaga para peacekeeper terlibat langsung maupun tidak langsung
akan pelanggaran tersebut, sehingga para penjaga perdamaian itu
dapat terhindar dari pelanggaran yang tidak diinginkan dan para
prajurit dapat melaksanakan fungsinya sebagai tentara langit yang
dapat melindungi masyarakat setempat.
Pada akhirnya
Mr. Claes dan Mr. Cloin percaya bahwa Kontingen Garuda XX-G/Monuc
dapat menjalankan tugas misi perdamaian di Dungu-Kongo ini dengan
baik, professional tanpa melakukan pelanggaran yang dapat
menjatuhkan kridibilitas kontingen dan negara Indonesia dimata dunia.
Mereka juga percaya bahwa pembekalan yang telah diberikan selama
satu bulan di Indonesia, dan penataran selama 9 jam di Camp
Indonesia Engeneering Company sudah lebih dari cukup sebagai bekal
dalam menjalankan tugas di Dungu Kongo ini.
Demikian siaran pers Komandan Satgas Zeni
Konga XX-G/Monuc, Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw yang dikirim ke redaksi situs berita
Lacakindonesia.com